FENOMENA PEMENUHAN SYAHWAT “TOBO RIBOKO” DENGAN MENGGUNAKAN AKUN ANONIM 

Penulis : Andre Suardi Piongdjongi

SELAYAR, WASPADAPOS.COM- Dalam beberapa Tahun terakhir, khususnya sejak tahapan Pilkada Serentak Tahun 2024, banyak sekali akun media sosial fake/palsu/anonim. Akun-akun tersebut biasanya menggunakan nama yang bukan identitas aslinya atau identitas yang dikenal secara umum, namun menggunakan nama samaran yang bahkan teman-temannya pun tak mengetahuinya.

Akun-akun medsos tersebut kemudian digunakan untuk membuat konten yang menyudutkan, menyerang individu atau organisasi, instansi, lembaga, atau pemerintah. 

Dalam budaya Makassar, ada yang disebut “Tobo Riboko” yang berarti menikam dari belakang. Ungkapan ini adalah idiom yang digunakan untuk menggambarkan tindakan seseorang yang melakukan pengkhianatan atau tindakan tidak adil terhadap orang lain, terutama dari belakang atau dilakukan secara diam-diam.

“Tobo Riboko” mengandung unsur pengkhianatan, di mana seseorang melakukan tindakan yang merugikan atau menghancurkan orang lain tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka. Dalam praktiknya, adat Makassar tidak akan mencari lagi motif dari penikaman tersebut, melainkan akan langsung mengutuk tindakan “Tobo Riboko” sebagai sebuah sikap yang pengecut dan tidak jantan (Teai Burakne).

Berita Selanjutnya  Ciptakan Rasa Aman, Polsek Bulukumpa Gelar Patroli di SPBU

Karena adat Makassar menilai bahwa seseorang melakukan tindakan “Tobo Riboko” adalah seorang yang tidak adil atau tidak etis terhadap orang lain. 

Yang mirisnya adalah ada beberapa teman-teman pemilik akun asli yang mulai percaya bahkan menjadikan informasi yang dari akun anonim/fake tersebut menjadi topik diskusi.  

Alhasil, pemilik akun anonim merasa hebat karena telah memicu lahirnya opini yang berseliweran. Bahkan karena saking merasa sudah diterima, nama akunnya diberi nama akun fake atau akun anonim.

Dalam ilmu intelijen, hal terpenting yang menjadi dasar dari informasi adalah sumber informasinya. Yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan skala A1 hingga A6.

A1 berarti Sumber yang sangat dapat dipercaya dan informasi yang sangat akurat. Sumber informasi yang sangat terpercaya dan memiliki akses langsung ke informasi. Informasi yang diberikan sangat akurat dan dapat diverifikasi.

A2 berarti Sumber yang dapat dipercaya dan informasi yang akurat. Sumber informasi yang dapat dipercaya dan memiliki akses ke informasi. Informasi yang diberikan akurat, tetapi mungkin memerlukan verifikasi tambahan.

Berita Selanjutnya  Awardee BPI UNHAS Gelar Pengabdian Masyarakat: Edukasi Pijat Bayi untuk Atasi Bapil dan Konstipasi

A3 berarti Sumber yang cukup dapat dipercaya dan informasi yang cukup akurat. Sumber informasi yang cukup dapat dipercaya, tetapi mungkin memiliki beberapa kelemahan. Informasi yang diberikan cukup akurat, tetapi mungkin memerlukan verifikasi tambahan.

A4 berarti Sumber yang tidak dapat dipercaya dan informasi yang tidak akurat. Sumber informasi yang tidak dapat dipercaya atau memiliki motivasi yang tidak jelas. Informasi yang diberikan tidak akurat atau tidak dapat diverifikasi.

A5 berarti Sumber yang tidak diketahui dan informasi yang tidak dapat diverifikasi. Sumber informasi yang tidak diketahui atau tidak memiliki reputasi yang jelas. Informasi yang diberikan tidak dapat diverifikasi atau memiliki kelemahan yang signifikan.

A6 berarti Sumber yang tidak dapat dipercaya dan informasi yang palsu. Sumber informasi yang tidak dapat dipercaya dan memiliki motivasi yang tidak jelas. Informasi yang diberikan palsu atau memiliki kelemahan yang signifikan.

Skala nilai informasi ini digunakan untuk menilai keandalan dan akurasi informasi yang diterima dari sumber-sumber yang berbeda. Dengan menggunakan skala ini, analis intelijen dapat membuat keputusan yang lebih tepat dan mengurangi risiko kesalahan.

Berita Selanjutnya  Cegah Omicron, BINDA Sulsel Terus Gencar Vaksinasi Covid-19 di Pangkep

Dalam hal ini akun fake/anonim berada pada klasifikasi skala A-5 atau A-6, skala yang bernilai sampah dalam Intelijen dan Media.  Layakkah kita membuang-buang waktu untuk membahas informasi seperti itu ?

Tulisan ini saya percaya tidak akan merubah pendirian para pengguna akun anonim/fake untuk menghentikan aktivitasnya. Karena secara sosial orang-orang tidak akan tahu bahwa dialah pengguna akun palsu tersebut.

Yang diharapkan adalah para pengguna akun asli dengan identitas jelas dan mengharapkan informasi akurat, untuk tidak lagi menghiraukan, membahas atau mengomentari isyu dari sumber yang tidak jelas tersebut. 

Sekali lagi, setiap orang memiliki kepentingan, setiap orang pernah melakukan kesalahan, setiap orang mungkin mencari keuntungan dalam kondisi tertentu. Namun “Tobo Riboko” atau  “Lempar batu sembunyi tangan” adalah sebuah degradasi moral “integrity” yang mencoreng keluhuran budaya kita.

Comment