SELAYAR, WASPADAPOS.COM- Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu lumbung pemuda terbaik di Indonesia. Dari rahim daerah ini lahir tokoh-tokoh nasional, pemimpin daerah, intelektual, pengusaha, hingga aktivis pergerakan yang berkiprah di berbagai sektor. Sejarah telah mencatat bagaimana pemuda Sulsel selalu hadir di garda depan perjuangan bangsa. Lalu menjadi pertanyaan besar hari ini, Apakah Sulawesi Selatan benar-benar kekurangan pemuda hingga kursi Ketua KNPI harus diisi oleh orang di luar Sulawesi Selatan?
Pertanyaan ini bukan sekadar kritik personal melainkan refleksi kolektif terhadap marwah dan harga diri kepemudaan daerah. Sulawesi Selatan memiliki ratusan bahkan ribuan kader muda potensial yang aktif di organisasi kemahasiswaan, OKP, komunitas sosial, hingga dunia profesional. Mereka tumbuh dengan pemahaman lokal, kearifan budaya, dan semangat pengabdian terhadap daerahnya sendiri. Maka menjadi ironi jika kepemimpinan organisasi kepemudaan justru diserahkan kepada figur yang tidak tumbuh dari rahim perjuangan pemuda Sulsel.
KNPI sejatinya adalah rumah besar pemuda daerah. Ia bukan sekadar struktur organisasi tapi wadah konsolidasi gagasan, tenaga, dan idealisme pemuda lokal untuk menjawab persoalan daerahnya sendiri. Jika kepemimpinannya diambil alih oleh pihak luar maka muncul pertanyaan serius, apakah ruang kaderisasi di internal pemuda Sulsel telah buntu? Ataukah justru ada proses yang dipaksakan dan mengabaikan kedaulatan pemuda daerah?
Kepemimpinan yang lahir dari daerah sendiri memiliki keunggulan yang tak tergantikan. pemahaman sosial, kedekatan emosional dengan persoalan rakyat, serta tanggung jawab moral untuk membangun tanah kelahiran. Pemimpin dari luar tentu bisa membawa pengalaman dan jejaring tapi tanpa akar sosial yang kuat, arah perjuangan berpotensi kehilangan relevansi dengan kebutuhan pemuda lokal.
Lebih jauh kondisi ini bisa melukai semangat kaderisasi. Pemuda-pemuda yang telah bertahun-tahun berproses dalam organisasi akan merasa terpinggirkan ketika puncak kepemimpinan justru diberikan kepada figur dari luar daerah. Jika hal ini terus dibiarkan maka KNPI berisiko kehilangan fungsinya sebagai ruang tumbuhnya pemimpin muda lokal dan hanya menjadi arena kepentingan segelintir elit.
Sulawesi Selatan tidak kekurangan pemuda. Yang mungkin sedang diuji adalah keberanian untuk menjaga kemandirian, marwah, dan kedaulatan organisasi kepemudaan. KNPI Sulsel seharusnya dipimpin oleh pemuda Sulsel sendiri yang memahami denyut nadi daerah, yang hidup bersama rakyatnya, dan yang siap memikul tanggung jawab sejarah untuk masa depan bumi Celebes.
Pada akhirnya, pertanyaan di judul bukan untuk melemahkan siapa pun, tetapi menjadi alarm keras bagi seluruh elemen pemuda, apakah kita masih percaya pada kekuatan pemuda Sulawesi Selatan sendiri, atau justru mulai meragukan kemampuan anak daerah kita?
Sebab pemuda yang besar adalah pemuda yang percaya pada dirinya sendiri dan berdiri di atas kekuatan daerahnya. Jika bukan pemuda Sulsel yang memimpin Sulsel, lalu siapa lagi?
Akbar Putra
Ketua DPD KNPI KEPULAUAN SELAYAR

Comment